AG892KEDIRIRAYA.COM || JOMBANG – Pondok Pesantren At Tahdzib, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, menggelar Haflah Akhirussanah ke-52 yang berlangsung selama tiga hari, Jumat hingga Minggu (5-7/6/2026).
Sebanyak 500 santri mengikuti prosesi wisuda dalam kegiatan yang menjadi puncak akhir tahun pendidikan tersebut.
Di hadapan para wali santri dan tamu undangan, ketua yayasan Ponpes At Tahdzib, KH Buya Dr. Ach. Dzaky GF, M.HI., menegaskan bahwa pesantren yang dipimpinnya tidak berorientasi mencetak kiai, melainkan menyiapkan generasi pejuang dakwah yang siap terjun ke tengah masyarakat.
"Kami tidak sedang mencetak kiai. Kami ingin mencetak pejuang yang mampu mengamalkan ilmu dan memperjuangkan ajaran Rasulullah di tengah masyarakat," ujar Gus Dzaky sapaan akrabnya
Menurutnya, keberhasilan pendidikan pesantren tidak diukur dari seberapa banyak santri yang lulus, melainkan sejauh mana ilmu yang diperoleh mampu diamalkan setelah mereka meninggalkan bangku pendidikan.
Karena itu, para santri yang telah menyelesaikan pendidikan didorong untuk tidak terburu-buru kembali ke kehidupan masing-masing. Mereka dianjurkan mengabdi terlebih dahulu dengan mengajar santri yang lebih muda sebagai bentuk implementasi ilmu yang telah diperoleh.
Tradisi pengabdian tersebut telah berlangsung selama puluhan tahun dan menjadi bagian dari sistem pendidikan di Ponpes At Tahdzib.
"Ilmu itu harus diamalkan. Setelah belajar, mereka mengajar. Setelah itu baru terjun lebih luas ke masyarakat," katanya.
Gus Dzaky menjelaskan, tidak sedikit alumni At Tahdzib yang kemudian ditugaskan ke berbagai daerah di Indonesia untuk menjadi tenaga pengajar maupun pendamping kegiatan keagamaan masyarakat.
Bahkan, sejumlah alumni kini mengembangkan lembaga pendidikan sendiri di luar Jawa, termasuk di Kalimantan dan wilayah Indonesia bagian timur.
Selain menempuh pendidikan formal dan nonformal, para santri juga diwajibkan memenuhi target hafalan sebagai syarat mengikuti wisuda. Ketentuan tersebut berlaku untuk seluruh tingkatan pendidikan.
"Kalau target hafalannya belum tercapai, maka belum bisa mengikuti wisuda meskipun nilai akademiknya baik," ujarnya.
Saat ini Ponpes At Tahdzib menaungi sekitar 1.500 santri yang berasal dari berbagai daerah. Menurut Dzaky, proses pendidikan yang diterapkan tidak hanya berfokus pada penguasaan ilmu agama, tetapi juga pembentukan karakter, kedisiplinan, dan kemampuan berdakwah.
Melalui Haflah Akhirussanah ke-52 ini, pesantren berharap para lulusan tidak hanya menjadi pribadi yang saleh secara individual, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan dan penggerak dakwah di tengah masyarakat.
REPORTER : AG892/AR

0 Komentar