
AG892KEDIRIRAYA.COM ||KEDIRI – Peringatan Hari Besar Nasional (PHBN) di Desa Tunglur, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri, tidak hanya diisi kegiatan seremonial. Pemerintah desa juga memberikan ruang bagi kelompok kesenian lokal untuk tampil dan menghibur masyarakat.
Rangkaian kegiatan PHBN diawali dengan senam kebangsaan atau senam bersama pada Kamis (13/8/2026) pagi. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan tasyakuran yang digelar di Aula Balai Desa Tunglur.
Pada siang harinya, masyarakat disuguhi pagelaran kesenian jaranan dari kelompok seni yang berasal dari wilayah setempat.
Kepala Desa Tunglur, Masyhudi, mengatakan, rangkaian kegiatan PHBN tahun ini melibatkan pemerintah desa bersama lembaga desa. Sementara untuk kegiatan karnaval, keterlibatan lebih banyak diberikan kepada kalangan pemuda.
"Untuk keseluruhan acara panitianya dari pemerintah desa dan lembaga. Tetapi untuk kegiatan karnaval itu dari pemuda," ujarnya.
Menurutnya, pagelaran jaranan bukan kali pertama dimasukkan dalam rangkaian PHBN Desa Tunglur. Kegiatan tersebut telah rutin digelar selama beberapa tahun terakhir.
*Bukan Sekadar Hiburan*
Pemdes Tunglur sengaja mempertahankan pagelaran kesenian tradisional sebagai bagian dari agenda PHBN. Selain menjadi hiburan bagi masyarakat, kegiatan tersebut dinilai menjadi salah satu cara menjaga keberlangsungan kelompok seni lokal.
"Setiap tahun, sudah beberapa tahun terakhir ini, setiap kegiatan PHBN ada pagelaran kesenian jaranan," katanya.
Ia menjelaskan, Desa Tunglur memiliki sejumlah kelompok kesenian, termasuk jaranan dan bantengan.
Kelompok yang tampil juga dibuat bergantian agar seluruh pelaku seni lokal mendapatkan kesempatan untuk tampil.
"Di wilayah Punglor sendiri ada kelompok seni jaranan dan bantengan. Tahun kemarin kami tampilkan grup satunya, tahun ini grup satunya, supaya keseniannya tetap bisa hidup," ujarnya.
Menurutnya, keberlangsungan kesenian tradisional membutuhkan ruang tampil dan dukungan masyarakat. Karena itu, kegiatan desa menjadi salah satu momentum untuk mempertemukan kelompok seni dengan masyarakat secara langsung.
*Rangkaian PHBN Berlanjut hingga 19 Agustus*
Rangkaian PHBN Desa Tunglur tidak berhenti pada kegiatan 13 Agustus. Pada malam 17 Agustus, pemerintah desa bersama masyarakat akan menggelar doa bersama sebagai bagian dari peringatan kemerdekaan.
Selanjutnya, pada 17 Agustus juga dijadwalkan pagelaran wayang kulit. Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut pada 18 Agustus melalui panggung gembira yang melibatkan anak-anak TK, RA dan SD.
Sehari berikutnya, panggung gembira kembali digelar dengan melibatkan anak-anak dari TPQ, MI dan unsur pendidikan lainnya.
Rangkaian tersebut sekaligus menjadi upaya pemerintah desa melibatkan berbagai kelompok masyarakat, mulai dari pemuda, pelaku seni hingga anak-anak dalam peringatan PHBN.
Dengan demikian, perayaan kemerdekaan di Desa Tunglur tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkumpul, menampilkan potensi lokal dan menjaga kesenian tradisional agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
REPORTER : AG892/AK


0 Komentar