Berawal dari Lahan Biasa, Dimas Sulap Kebun 10x20 Meter Jadi Bisnis Hidroponik

 
AG892KEDIRIRAYA.COM ||KEDIRI – Berawal dari lahan pertanian biasa, Adimas Ketut Nalendra (36) perlahan mengubah cara bercocok tanamnya. Dari lahan di Dusun Tegalsari, Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, ia kini menekuni budidaya sayuran hidroponik, khususnya selada keriting.

Menariknya, pria yang akrab disapa Dimas tersebut bukan lulusan pertanian. Pengetahuan mengenai hidroponik justru diperolehnya secara otodidak, ditambah belajar bersama komunitas penghobi hidroponik.

Pilihan itu bermula dari upayanya mencari pola usaha pertanian yang lebih terukur. Salah satu lahan yang dikelolanya memiliki luas sekitar 10 x 20 meter. Sebelum digunakan untuk hidroponik, lahan tersebut sempat ditanami melon.

Sebelumnya lagi, Dimas mencoba berbagai tanaman secara konvensional, mulai jagung, kacang tanah, sawi hingga sejumlah jenis sayuran lainnya.

Namun, hasilnya belum sesuai harapan. Produksi dari lahan tersebut belum mampu menutup kebutuhan operasional, termasuk biaya tenaga kerja.

"Hasilnya masih belum bisa untuk menghidupi pegawainya," kata Dimas, Jumat (18/9/2026).

Dari pengalaman tersebut, Dimas mulai mengubah pola pengelolaan lahannya. Sistem hidroponik dipilih karena produksi bisa direncanakan berdasarkan target dan kebutuhan pasar.

Perlahan, area yang sebelumnya digunakan untuk tanaman buah mulai dibagi dengan produksi sayuran. Selada keriting menjadi salah satu komoditas yang kini dikembangkan secara rutin.

Dari lahan di Tegalsari, Dimas menargetkan produksi sayuran sekitar 100 kilogram setiap pekan. Sementara tanaman buah memiliki siklus produksi yang berbeda, dengan target panen sekitar satu bulan sekali.

Menurut Dimas, produktivitas menjadi salah satu alasan dirinya bertahan dengan hidroponik. Berdasarkan pengalaman yang dijalaninya, hasil produksi dalam luasan lahan yang sama bisa mencapai lima hingga enam kali dibandingkan pola tanam konvensional.

"Kalau di lahan biasa dengan hidroponik itu hasilnya bisa lima sampai enam kali lipat dari yang biasanya," ucap pria yang kini bekerja sebagai pegawai di Kementerian Pendidikan wilayah Blitar tersebut.

Belajar dari Nol

Peralihan ke hidroponik juga tidak langsung menghasilkan. Dimas harus mempelajari sistem tersebut dari awal.

Ia belajar secara otodidak sekaligus bertukar pengalaman dengan komunitas penghobi hidroponik. Pengetahuan itu kemudian diterapkan sedikit demi sedikit di lahannya.

Investasi awal juga menjadi tantangan. Sistem hidroponik membutuhkan instalasi dan berbagai perlengkapan yang membuat modal awal lebih besar dibandingkan sekadar menanam di tanah.

Namun, setelah berjalan, Dimas mulai melihat pola produksi yang lebih mudah dikendalikan.

Salah satunya dari sisi kualitas dan daya simpan. Menurut dia, sayuran hidroponik yang diproduksinya dapat bertahan lebih lama jika disimpan dengan cara yang tepat.

"Kalau kita bisa tahan sayur biasanya sampai satu minggu kalau di dalam cooler. Kalau tidak di dalam cooler atau di suhu ruang biasanya sampai tiga sampai empat hari," jelas warga asal Desa Badas tersebut.

Keunggulan itu kemudian menjadi bagian dari strategi Dimas mencari pasar.

Pelanggan awalnya berasal dari pelaku usaha kuliner di sekitar Pare, seperti penjual kebab, gado-gado dan sejumlah usaha makanan lainnya yang membutuhkan pasokan sayuran segar.

Seiring waktu, pasar tersebut berkembang. Permintaan juga datang dari SPPG dengan kebutuhan pasokan yang lebih besar.

Jika sebelumnya permintaan berada di kisaran 50 kilogram per pekan, kebutuhan dari SPPG dapat mencapai sekitar 200 kilogram per pekan.

Kondisi tersebut membuat Dimas harus menyesuaikan kapasitas produksi dengan permintaan. Ia tidak hanya memikirkan bagaimana tanaman tumbuh, tetapi juga memastikan hasil panen terserap pasar.

Tak Mau Terjebak Perang Harga

Dari sisi pendapatan, hasil usaha hidroponik sangat bergantung pada harga dan kondisi pasar.

Ketika harga sayuran turun, dua petak lahan yang dikelolanya dapat menghasilkan sekitar Rp10 juta hingga Rp12 juta per bulan setelah dikurangi sejumlah biaya, di luar tenaga kerja.

Sebaliknya, ketika permintaan tinggi dan kondisi produksi mendukung, hasilnya bisa meningkat cukup besar.

Setelah Lebaran, Dimas pernah mencatat produksi sekitar 500 kilogram sayuran dalam satu minggu. Pada periode tersebut, pendapatan dari usaha hidroponiknya pernah mencapai sekitar Rp30 juta dalam sebulan dengan tenaga kerja yang sama.

Meski begitu, Dimas tidak memilih ikut perang harga ketika harga sayuran konvensional turun.

Ia justru menyesuaikan jumlah produksi dan mempertahankan pelanggan yang selama ini sudah menjadi pasar tetapnya.

"Kalau kita mau perang harga, kita akhirnya yang kalah. Kita hanya mencari konsumen-konsumen yang loyal," tuturnya.

Menurut Dimas, produk hidroponik memang tidak selalu bisa bersaing jika hanya dilihat dari harga.

Petani konvensional memiliki keunggulan dari sisi luas lahan dan kapasitas produksi. Ketika pasokan melimpah, harga sayuran konvensional bisa lebih rendah.

Karena itu, Dimas memilih menawarkan nilai lain, yakni kebersihan, kesegaran dan kualitas produk.

Baginya, mempertahankan pelanggan menjadi lebih penting daripada memaksakan produksi ketika kondisi pasar sedang tidak menguntungkan.

Setiap Hari Harus Dicek

Di balik produksi yang lebih terukur, hidroponik juga menuntut pekerjaan yang tidak sedikit.

Dimas harus memantau tanaman hampir setiap hari. Kondisi nutrisi, air, pertumbuhan tanaman hingga gangguan hama perlu diperhatikan secara rutin.

"Kalau konvensional mungkin dua atau tiga hari baru ke lahan. Kalau hidroponik setiap hari harus dikerjakan," katanya.

Cuaca juga menjadi salah satu tantangan

Perubahan pola hujan yang tidak menentu dapat memengaruhi kondisi tanaman sekaligus memicu munculnya kembali hama.

"Walaupun serangan hama dulu sudah minim, cuaca juga memengaruhi. Sekarang hujan sudah tidak terjadwal seperti dulu, itu juga memicu kembalinya hama," ujarnya.

Selain persoalan teknis, Dimas harus memikirkan biaya produksi. Berbeda dengan sebagian petani konvensional yang mendapatkan akses pupuk bersubsidi, kebutuhan nutrisi hidroponik harus dipenuhi dengan biaya sendiri.

Harga nutrisi yang berubah-ubah membuat efisiensi menjadi bagian penting dalam pengelolaan kebun.

Semakin luas usaha yang dikelola, persoalannya pun semakin kompleks. Dimas harus menghitung kebutuhan tenaga kerja, bahan produksi, jadwal tanam hingga memastikan panen tetap memiliki pasar.

Bagi Dimas, perjalanan tersebut membuat pertanian tidak lagi sekadar aktivitas bercocok tanam.

Ia melihat lahan sebagai bagian dari sebuah usaha yang harus memiliki perencanaan produksi dan pasar.

Dari lahan yang sebelumnya digunakan untuk tanaman konvensional, kini beberapa titik kebun miliknya dikembangkan untuk selada dan melon.

Ke depan, Dimas masih berencana memperluas lahan dan mencoba varietas tanaman lain.

Semua berawal dari keputusan sederhana: berani mencoba cara berbeda ketika pola lama belum memberikan hasil yang diharapkan.

REPORTER : AG892/AK

Posting Komentar

0 Komentar