AG892KEDIRIRAYA.COM ||KEDIRI, JAWA TIMUR — Momentum pergantian nama Sang Proklamator kemerdekaan Bangsa Indonesia, dari Koesno menjadi Soekarno, diperingati secara khidmat melalui perhelatan budaya bertajuk "Ruwat Agung Soekarno". Acara yang berlangsung pada Minggu (14/06/2026) ini digelar di Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok, Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, sebuah tempat bersejarah yang menjadi saksi perubahan nama Bung Karno masa kecil.
Kegiatan ini diinisiasi oleh pengelola Situs Ndalem Pojok dan Perkumpulan Instruktur Penggiat Jati Diri Bangsa (PIPJATBANG) serta dihadiri oleh Brigjen Pol. Langgeng Purnomo selaku Ketua Dewan Pengarah PIPJATBANG, jajaran Forkopimda Kabupaten Kediri, Kapolres jajaran Polda Jatim eks Polwil Kediri, para tokoh lintas agama serta budayawan setempat.
R.M. Kushartono, Ketua Panitia Pelaksana, menjelaskan bahwa Ndalem Pojok memegang peran vital dalam sejarah Bapak Bangsa. Di rumah tua inilah nama Soekarno dianugerahkan oleh Raden Mas Mendung atas restu sesepuh agung Raden Mas Panji Somohatmojo.
"Melalui Ruwat Agung ini, Kami ingin memulihkan kembali karakter dan mentalitas jati diri bangsa yang mulai memudar. Kami berharap dapat membangkitkan kembali jiwa Soekarno di dalam sanubari generasi muda demi menyongsong Indonesia Emas 2045 dan mengantarkan bangsa ini sebagai Imam Perdamaian Dunia," ujar Kushartono.
Rangkaian acara diawali dengan Doa Pangruwatan Bangsa oleh para tokoh lintas agama, disusul Kirab Jati Diri yang mengarak Tumpeng Keselamatan. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan Panglukatan (penyucian) patung Soekarno, peresmian monumen papan nama perubahan Koesno menjadi Soekarno, penandatanganan prasasti serta pementasan teatrikal padat lakon "Kembang Jagad".
Hadir sebagai narasumber utama, Brigjen Pol. Langgeng Purnomo yang memiliki kompetensi Master Instruktur Penggiat Jati Diri Bangsa berdasarkan Sertifikat dari BNSP dan selaku Ketua Dewan Pengarah PIPJATBANG yang saat ini menjabat sebagai Karobinkar SSDM Polri, menyampaikan pesan kebangsaan yang mendalam mengenai benang merah Jati Diri Bangsa dengan cita-cita Luhur Bung Karno untuk mewujudkan kedaulatan bangsa melalui "Tri Sakti Bung Karno" yaitu berdaulat di bidang Politik, berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.
"Saat ini kita berada di tengah tarik menarik geopolitik internasional, di mana setiap negara mengutamakan kepentingan nasionalnya, diantaranya agar bebas dari pengaruh asing. Untuk mewujudkan kedaulatan politik agar bebas dari pengaruh asing, pekerjaan rumah komponen bangsa Indonesia saat ini harus mau dan mampu gotong royong nasional dalam mewujudkan berdikari di bidang ekonomi terlebih dahulu," urai Brigjen Langgeng.
Ia menambahkan, kemandirian ekonomi tersebut kini sedang diimplementasikan melalui misi "Asta Cita" Presiden Prabowo Subianto yang antara lain berfokus pada swasembada pangan, energi, air, teknologi dan hilirisasi. Namun, Jenderal bintang satu ini mengingatkan bahwa prasyarat utama untuk mencapai kemandirian ekonomi melalui gotong royong nasional adalah pada poin Tri Sakti yang ketiga yakni kesadaran bersama untuk mewujudkan berkepribadian dalam kebudayaan.
"Kita sedang menghadapi dampak negatif globalisasi dan pengaruh budaya kapitalisme yang tanpa disadari menyuburkan 'pohon khabitsah' pada diri kita, yaitu sifat manusia berakar dari keserakahan, iri, kedengkian dan penyakit hati lainnya. Penyakit sosial ini jika dibiarkan akan meluluhlantakkan moral, hukum, budaya hingga keamanan nasional. Solusinya adalah kembali ke jati diri bangsa Indonesia," tegasnya.
Mengambil filosofi dari lagu Indonesia Raya, Brigjen Langgeng menekankan kata kuncinya adalah adalah "Bangun dan Membangun", bangun jiwa dan bangun badannya Bangsa Indonesia untuk membangun di segala bidang. Menurutnya, membangun jiwa berarti membentengi diri dari budaya asing yang destruktif dan memperkuat semangat gotong royong untuk mendukung program-program pemerintah.
"Kembali kepada jati diri bangsa adalah kunci utama. Dengan kebudayaan yang berkepribadian, ekonomi yang berdikari melalui Asta Cita Presiden Prabowo Subianto serta politik yang berdaulat, Indonesia akan siap melangkah menjadi mercusuar imam perdamaian dunia yang abadi," pungkas Brigjen Langgeng menutup pesan kebangsaannya.
REPORTER : AG892/AR




0 Komentar