
AG892KEDIRIDAYA.COM || Jakarta - Muktamar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) selalu menjadi sorotan nasional. Di tengah hangatnya dinamika internal jelang kontestasi kepemimpinan, dukungan terhadap figur pimpinan mulai bermunculan secara terbuka dari kalangan akar rumput dan aktivis muda.
Aktivis Gerakan Pemuda (GP) Ansor sekaligus Funder LBH Al Faruq, Taufiq Dwi Kusuma, S.H., M.H., menyatakan dukungannya secara terbuka kepada K.H. Abdussalam Shohib (Gus Salam) untuk maju sebagai Calon Ketua Umum PBNU.
Taufiq menegaskan bahwa dukungannya bukan didasari oleh fanatisme personal atau sekadar mengikut arus, melainkan dari sudut pandang kader yang sehari-hari berhadapan dengan persoalan hukum, tata kelola organisasi, dan pemberdayaan masyarakat.
Menurut Taufiq, PBNU saat ini membutuhkan sosok khodim (pelayan) yang mampu mengembalikan fokus organisasi pada penguatan kaderisasi, pesantren, advokasi masyarakat, serta penataan sistem yang transparan.
"Saya melihat pencalonan ini bukan sekadar persoalan politik internal, melainkan tata kelola organisasi. Kepemimpinan PBNU bukan hanya soal siapa yang memiliki dukungan politik terbesar, melainkan siapa yang mampu membangun sistem organisasi yang sehat, transparan, tertib, dan berkeadilan," ujar Taufiq.
Dari perspektif hukum, ia menambahkan bahwa kekuasaan dalam organisasi harus tunduk pada aturan AD/ART, setiap keputusan harus dapat dipertanggungjawabkan, dan perbedaan pendapat harus diselesaikan melalui mekanisme internal secara santun.
Sebagai praktisi hukum yang aktif membela masyarakat mustad'afin (kaum lemah), Taufiq menilai ada titik temu antara aktivitas advokasi hukum dan kepemimpinan Nahdlatul Ulama. Mengutip Surah Al-Ma'idah ayat 2 tentang perintah tolong-menolong dalam kebaikan, ia berharap NU dapat hadir secara konkret bagi warga yang membutuhkan.
Terkait dengan peran kader muda, Taufiq memandang bahwa regenerasi tidak selalu diartikan dengan menduduki posisi tertinggi secara langsung. Menurutnya, kepemimpinan Gus Salam yang enerjik diharapkan dapat membuka ruang strategis bagi generasi muda dalam pengambilan kebijakan, advokasi hukum, ekonomi, dan pendidikan.
Meski memberikan dukungan penuh, Taufiq menegaskan bahwa loyalitas kepada figur tidak boleh mengalahkan loyalitas kepada organisasi NU. Ia menyatakan siap berada di garis terdepan untuk mengkritik jika kebijakan pimpinan terpilih kelak menyimpang dari aturan organisasi.
Taufiq membeberkan lima ukuran konkret untuk menilai keberhasilan kepemimpinan PBNU ke depan. Lima indikator utama ini dinilai dapat menjadi tolok ukur konkret untuk menilai keberhasilan kepemimpinan PBNU ke depan.
Indikator pertama berfokus pada pengelolaan konflik, yaitu sejauh mana dinamika serta potensi faksi internal dapat dikelola secara bijak melalui mekanisme resmi organisasi.
Kedua, keberhasilan diukur dari konsolidasi struktur, di mana terjalin hubungan kerja yang harmonis, sehat, dan kondusif antara PBNU dengan PWNU, PCNU, pesantren, hingga badan otonom.
Indikator ketiga menekankan pada kaderisasi realistis, yaitu pelaksanaan program penguatan kapasitas kader secara substantif dan berkelanjutan, bukan sekadar menjadi jargon formalitas.
Selanjutnya, indikator keempat menitikberatkan pada pemberdayaan umat, yang ditandai dengan hadirnya peran nyata NU dalam melakukan advokasi hukum serta pendampingan ekonomi masyarakat bawah.
Indikator kelima adalah transparansi tata kelola, di mana seluruh administrasi dan keuangan organisasi dikelola secara terbuka, akuntabel, serta dapat dipertanggungjawabkan kepada jam'iyah.
"Ukuran keberhasilan bukan seberapa sering ketua umum tampil di media, melainkan seberapa kuat organisasi bekerja dan seberapa besar manfaatnya dirasakan oleh jam'iyah NU," tegas Taufiq.
Taufiq mengajak seluruh elemen Nahdliyin untuk menyikapi perbedaan pilihan politik organisasi secara bijak. Ia berharap proses kontestasi Muktamar PBNU berjalan secara bermartabat, jujur, dan tetap menjaga persaudaraan antarwarga Nahdliyin.
REPORTER : AG892

0 Komentar