Tenaga Kerja Langka, Petani Tebu Kediri Didorong Beralih ke Mekanisasi

 AG892KEDIRIRAYA.COM ||KEDIRI – Persoalan tenaga kerja mulai menjadi pekerjaan rumah bagi petani tebu. Ketika kebutuhan produksi harus tetap berjalan, ketersediaan buruh tani justru semakin terbatas.

Kondisi ini mendorong penggunaan teknologi dan mesin pertanian menjadi bagian penting dalam pengelolaan perkebunan tebu.

Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan "Sedulur Tani Tebu Nganggo Teknologi Menuju Jawa Timur Maju" di Desa Tiru Lor, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Rabu (16/9/2026).

Kegiatan itu mempertemukan petani dengan pelaku usaha penyedia alat dan mesin pertanian. Sejumlah unit diperkenalkan, di antaranya traktor 50 HP, traktor 110 HP, serta mini excavator enam ton.

Direktur Operasional PT Kotrack Machinery Indonesia, Bar Sabar Nugroho, mengatakan mekanisasi menjadi salah satu jawaban atas perubahan kondisi tenaga kerja di sektor pertanian.

"Tenaga kerja semakin sulit, sementara biaya operasional juga meningkat. Mekanisasi pertanian bukan lagi sekadar pilihan, tetapi sudah menjadi kebutuhan," kata Bar Sabar.

Menurut dia, teknologi dapat membantu petani mengerjakan proses budidaya dengan lebih cepat dan mengurangi beban pekerjaan yang selama ini mengandalkan tenaga manusia.

Namun, Bar Sabar mengingatkan bahwa penerapan mekanisasi tidak bisa dilakukan dengan pendekatan yang sama untuk semua petani. Kebutuhan mesin harus disesuaikan dengan pekerjaan, luas lahan dan kondisi di lapangan.

Petani Tak Hanya Ditawari Mesin

Bar Sabar mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan memperkenalkan produk perusahaan.

Pihaknya juga ingin mendengar secara langsung persoalan petani sehingga mesin yang ditawarkan dapat menjawab kebutuhan nyata di lapangan.

"Kami tidak hanya ingin menjual produk. Kami ingin menjadi partner bagi petani. Karena itu, kami ingin mendengar kendala mereka dan memberikan solusi yang sesuai," ujarnya.

Ia menilai mekanisasi juga membuka peluang bagi generasi muda untuk masuk ke sektor pertanian dengan pendekatan yang lebih modern.

Menurut dia, pertanian tidak harus selalu identik dengan pekerjaan manual. Pemanfaatan teknologi dapat membuat pekerjaan lebih efisien sekaligus membuka peluang usaha baru.

Dalam kegiatan tersebut, perusahaan memperkenalkan produk Lovol, termasuk traktor 50 HP dan 110 HP serta mini excavator. Berbagai keunggulan teknis yang disampaikan mengenai produk tersebut merupakan penjelasan dari pihak perusahaan kepada petani.

Dari Persoalan Tenaga Kerja hingga Produktivitas

Sementara itu, Nanang Sukamto dari CV Kembang Rosan Abadi mengatakan, kehadiran teknologi mekanisasi diharapkan dapat membantu petani menghadapi persoalan tenaga kerja.

Menurutnya, petani membutuhkan alat yang mampu mengurangi beban pekerjaan sekaligus mendukung proses budidaya.

"Kami berharap inovasi ini bisa membantu petani, terutama menghadapi keterbatasan tenaga kerja dan mengurangi beban pekerjaan di lapangan," kata Nanang.

Ia berharap pengenalan alat tidak berhenti pada kegiatan temu petani, tetapi berlanjut pada pemanfaatan teknologi yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan perkebunan tebu di Jawa Timur.

Sebab, tantangan petani bukan hanya bagaimana menghasilkan tebu, tetapi juga bagaimana menjaga biaya produksi tetap terkendali ketika tenaga kerja semakin sulit diperoleh.

Bagi Bar Sabar, keberhasilan mekanisasi pada akhirnya harus kembali kepada manfaat yang dirasakan petani."Petani kuat, gula Indonesia hebat," ujarnya.

REPORTER : AG892/Rul 

Posting Komentar

0 Komentar