AG892KEDIRIRAYA.COM || KEDIRI - Berawal dari membuat camilan untuk konsumsi sendiri saat pandemi Covid-19, Septa Widyastutik, penyandang disabilitas berusia 39 tahun asal Dusun Gadungan Barat, Desa Gadungan, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, kini sukses mengembangkan usaha kue kering rumahan bernama “Kuker Imoet”.
Dengan semangat dan ketekunan, berbagai produk camilan buatannya kini mulai dikenal masyarakat hingga dipasarkan di sejumlah toko oleh-oleh dan galeri UMKM di Kediri.
Septa menceritakan, usaha tersebut mulai dirintis sekitar tahun 2020. Awalnya ia hanya mencoba membuat camilan sederhana di rumah untuk dikonsumsi sendiri bersama keluarga.
“Awal saya produksi pas Covid sekitar tahun 2020. Awalnya hanya untuk cemilan sendiri, tapi alhamdulillah banyak yang suka lalu mulai belajar jualan,” ujarnya pada Jum'at 8 Mei 2026.
Kue pertama yang dibuat adalah kue bagiak. Dari situ, Septa mulai mencoba berbagai jenis camilan lain hingga akhirnya memiliki beberapa produk andalan seperti pastel mini, stik bawang, dan kue bagiak.
Menariknya, seluruh proses belajar membuat kue dilakukan secara otodidak. Ia terus mencoba dan memperbaiki kualitas produknya sedikit demi sedikit.“Belajar saya dulu benar-benar otodidak,” katanya.
Saat ini, Septa dibantu empat orang pekerja dalam proses produksi. Namun produksi tidak dilakukan setiap hari dan menyesuaikan jumlah pesanan yang masuk.
“Kalau produksinya memang tidak setiap hari, ketika ada pesanan saja,” jelasnya.
Untuk pemasaran, Septa masih mengandalkan pemesanan melalui WhatsApp. Meski begitu, produk “Kuker Imoet” kini sudah masuk di beberapa toko oleh-oleh dan galeri UMKM di Kediri.
“Sekarang ada di Galeri DIKTA SuaR dan toko oleh-oleh Candaria. Dulu juga pernah di galeri UMKM DPRD,” ujarnya.
Produk camilannya dijual dalam berbagai kemasan, mulai pouch hingga toples dengan harga bervariasi antara Rp12.500 sampai Rp50 ribu tergantung jenis dan ukuran produk.
Menurutnya, stik bawang menjadi salah satu produk yang paling diminati pelanggan.
“Di toko oleh-oleh yang paling laku keras stik bawang pouch seharga Rp12.500,” katanya.
Di balik berkembangnya usaha tersebut, Septa mengaku sempat merasa kurang percaya diri saat awal memasarkan produknya. Ia bahkan pernah berpikir pelanggan membeli karena rasa iba terhadap kondisi fisiknya.
“Dulu saya merasa pelanggan membeli produk saya karena kasihan dengan kondisi fisik saya,” ungkapnya.
Namun, hal itu justru menjadi motivasi baginya untuk terus meningkatkan kualitas rasa dan kemasan produk agar pelanggan membeli karena benar-benar menyukai produknya.
“Alhamdulillah semakin banyak yang mengenal dan menyukai produk saya,” tambahnya.
Kini, pesanan produknya tak hanya datang dari masyarakat umum, tetapi juga sejumlah instansi pemerintah saat ada kegiatan bazar maupun program UMKM.
Dari usaha tersebut, Septa mengaku bisa memperoleh omzet sekitar Rp3 juta per bulan. Sementara saat momen hari raya, omzet penjualannya dapat meningkat hingga Rp20-25 juta.
Meski usahanya terus berkembang, Septa tetap menjalani semuanya dengan santai tanpa target berlebihan. Baginya, yang terpenting adalah usahanya dapat bermanfaat dan membuka peluang kerja bagi orang lain.
“Harapannya penjualan semakin meningkat agar saya bisa menyerap lebih banyak tenaga kerja. Saya hanya ingin bermanfaat untuk orang lain,” pungkasnya
REPORTER : AG892/ERWIN


0 Komentar